sejak pertama kali menumpang KRL jurusan Bogor Jakarta, entah darimana datangnya inspirasi jenuh, saya sudah memutuskan untuk tak menyukai kereta ini. Entah karena lajunya yang deras membelah angin, entah karena pemandangannya yang selintas beterbangan kabur di pelupuk mata, entah karena bangkunya yang berlubang kaku dan keras, atau entah karena saya selalu tak bisa berpegangan pada besi penyanggah yang tingginya tak dapat saya jangkau. entahlah, tapi yang jelas kejenuhan itu sudah merasuk sejak saya pertama kali menghirup aroma KRL itu.
sombong mungkin sekilas kedengarannya. tetapi jelas sekali, ini bukan sesuatu yang patut disombongkan. segan naik KRL maka alamat tak bisa kemana-mana (tak bisa kemana-mana jelas tak bisa sombong). dengan rute angkot yang pendek dan ongkosnya yang selalu naik justru akan memakan biaya banyak yang kalau dipikir-pikir lebih baik dananya dialokasikan untuk kebutuhan yang lain, membeli makanan misalnya (manusia selalu lapar). jadi ini bukan masalah sombong atau tidak sombong (atau tidak mau disebut sombong) tapi ini cuma sekedar perasaan ketertarikan dan ketidatertarikan pada suatu objek. jelas dalam kasus menyangkut pilihan untuk menggunakan KRL sebagai alat tranportasi ini, saya tidak tertarik!
...
aku gelisah. gemuruh kereta dan hentakan-hentakan goyang gerbongnya membuatku agak mabuk. pemandangan diluar hanya berupa garis tipis-tipis selaju dengan deras kereta yang berjalan. tak ada yang menarik.
sebentar-bentar pedagang buah pir menawarkan dagangannya padaku. seolah-olah aku memang tertarik untuk membeli setiap buah yang ditawarkan. padahal sejak dari stasiun bogor tadi, jangankan membeli buah atau dagangan lain, membuka mulut pun aku enggan. bahkan kalau boleh tidak bernafas aku lebih suka untuk menyimpan nafas itu ditas dan biar kupakai lagi nanti sehabis turun dari kereta.
seorang bocah naik bersama anak kecil yang dituntunnya. kumuh dekil lusuh. aku tahu perasaanku ini bergolak ramai. setiap hari ini pemandangan yang selalu aku dapati dan aku tak pernah terbiasa.
sebentar kemudian terdengar suara alunan musik dari dalam tas besar yang dicangklong bocah itu. anak kecil yang dituntunnya, mungkin adiknya, lalu bernyanyi layaknya berkaraokean. sesekali diselingin dengan goyangan pinggul yang aduhai.
sepertinya bila ia agak besar dan tubuh kecilnya sudah memperlihatkan lekuk-lekuk kewanitaan, dengan gerakan seperti itu pasti akan membuat para lelaki yang memenuhi gerbong itu akan menelan ludah. seerotis itukah hidup?
kadang lewat pemuda-pemuda kurus berpakaian rombeng. menadah meminta memohon sedikit suapan sedekah untuk mengganjal perut upah dari sekedar membersihkan sampah-sampah yang berceceran di gerbong. kotor gondrong dan hitam. selapar itukah bangsa?
mungkin bila aku memejamkan mata dan menajamkan semua indera yang aku punya, aku berkesempatan untuk mendengarkan setiap jerit hati manusia yang berada dalam gerbong ini.
mungkin akan terdengar rintihan rasa sakit, geraman amarah, desah kelelelahan, walau pasti aku juga akan mendengar tasbih tahmid takbir mengingat Tuhan, kenikmatan bersyukur.
setiap kali segelintir rasa perih menyelinap di dada. hanya perasaan perih tak berguna karena merasa diri tak berguna, tidak mampu berbuat apa-apa untuk membantu yang papa.
perih tak berguna karena merasa diri tak berguna, tidak mensyukuri setiap nikmat yang telah jatuh berhamburan didiri.
kalau boleh aku tak bernafas dulu, aku lebih suka menympannya rapih dalam tas. di atas kereta, perasaan bersyukur akan bergolak berjuang berteriak ramai didada. dan saat itu aku merasa aku tak berhak atas nafas kenikmatan yang jarang aku syukuri.
...
kalau mau membicarakan soal KRL jurusan Bogor Jakarta, dimana saya selalu berhenti dan naik dari stasiun depok baru (kota tempat saya tinggal bersama suami), maka jangan bicarakan dengan saya, karena saya tidak tertarik. tapi bila ngotot berkeinginan untuk membicarakannya dengan saya, maka saya punya seribu satu macam perasaan yang bisa saya ceritakan.
Saturday, July 03, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments: