Tuesday, September 28, 2004

KakiSeribuPagipagi

Bagaimana ini, ada kaki seribu pagi-pagi ...

Ada kaki seribu di depan rumah! Gila binatang melata itu menciptakan kengerian di teras sehingga sekedar menjengukkan kepala saja di pintu depan itu saya takut sekali. Untung bukan ulat yang berjalan, tanpa rasa bersalah, di dekat kursi bambu itu, kalau tidak bukan lagi kengerian yang ada di teras tapi kegemparan.

Terlalu dilebih-lebihkan? Mungkin memang tidak sengeri dan semenggemparkannya seperti bom kuningan beberapa waktu silam. Tapi ulat gitu loh.. dan atau binatang lainnya yang melata itu cukup mencekam bila berada dalam skala rumah. Ndak percaya? Yah rasakan saja kalau misalnya rumah anda di kerubungin 200 ulat. iiiiieghhhh!!

Kaki seribu itu masih di depan rumah waktu saya membawa cucian untuk dijemur. Lengkaplah mendung pagi ini. Semua kesenewenan saya sudah meluluhlantahkan keinginan saya untuk melalui hari ini dengan semangat. Well, semangat baru jadi seseorang yang jatah umurnya dipotong lagi sama Tuhan.

Belum lagi air, dari gelas yang tak sengaja tersenggoldiatas karpet, membasahi beberapa berkas dan tumpukan diktat. Sewaktu sedang membereskannya, brakbrukbrukbrak tangan saya ditimpa buku tebal, 890 halaman Hard Cover pula, yang saya letakan kurang seimbang pada tumpukan teratas buku-buku. Bregh sidalukambejagehatuyiangs..blu!! Asyiknya lagi tumpukan buku-buku jatuh itu menyempurnakan rumah yang sudah dalam keadaan berantakan!!?

Sementara menunggu kaki seribu itu pergi dan keping-keping semangat yang berceceran di sana sini sono (bahkan saya sempat melihatnya menyembul dari sela-sela vitamin C IPI. Lagi ngapain?) bersatu lagi, saya duduk-duduk diam menikmati setiap lirih angin yg masuk dari ventilasi jendela, mencerna setiap kokok ayam jantan, merasuki diri dengan suara-suara samar yang menyenandung ayat al’quran dari mesjid yang entah dimana, menyerap sepi.

Hari ini, entah kenapa seharusnya sempurna. Tapi selepas subuh tadi rasanya sediih sekali. Perasaan berdebar kemarin-kemarin sewaktu berharap adanya sosok bayi kecil dalam perut, lebur bersama takdir yang memang sudah Tuhan gariskan.

Saya agak berharap tadinya, keterlambatan ini merupakan pertanda kehadiran anak pertama kami. Kado yang paling indah untuk sebuah usia seperempat baya. Tapi Tuhan belum mempercayakan kami seorang anak rupanya. Mau bagaimana lagi. Masa mau menentang takdir. Apa daya kita? Apa hak kita?

Lalu saya menangis. Kesabaran kelak akan berbuah yang paling manis.

Kata suami saya tadi pagi, “selamat ulang tahun ya”. Sejuta kata tertelan. Apa lagi dong? Kata-kata tak harus diucapkan, kata-kata yang tak diucapkan menyempurnakan perasaan didada dihati dan disetiap pori kulit, kata-kata tak pernah cukup untuk diucapkan

Katanya lagi, ... katanya titiktitiktitik ...

Kaki seribu itu menghilang tanpa jejak tapi pagi masih mendung.

Monday, September 27, 2004

DAUN KERING TENGAH JALAN

Satu daun melayang jatuh tepat dihadapanku, sesaat sebelum aku menyebrangi jalan. Harusnya aku langsung saja menyebrang. tapi entah kenapa aku malah tertegun memandangi daun tua yang mulai menguning itu. Hampir saja aku memungutnya, ketika terlintas dalam pikiranku, untuk apa. Apa yang bisa kulakukan dengan sehelai daun kering. Menurutku, daun itu lebih indah bila berada dipohon, berwarna hijau, dan hidup. Karena ia pasti akan lebih bermanfaat sebagai tempat proses metabolisme. Ah, segala macam saja, pikirku.

Tapi aku tetap tak beranjak. Sepertinya berat sekali meninggalkan daun itu. Yaah, Aku bisa saja mengambilnya dan menyelipkannya disela-sela buku, tapi lagi-lagi pikirku, untuk apa. Karena sepertinya pembatas buku berupa daun yang sudah dilaminasi yang dijual ditoko-toko buku lebih menarik. Atau bisa saja aku mengambilnya untuk kubuat semacam kerajinan tangan. Atau bila aku tidak malas, aku bisa mulai menyusun koleksi herbalogi. Tapi apa sih! aku tak ada waktu untuk hal-hal semacam itu. Maka kuputuskan saja untuk tak pedullikan lagi daun itu, dan mulai menyebrangi jalan.

Jalanan hari ini sepi, bahkan angkot pun tidak kunjung lewat. Untung sekali aku tak sedang terburu-buru. Hari panas sekali. Untungnya lagi pohon besar tempatku bernaung, memayungiku dari terik matahari.

Sejenak pikiranku kembali pada daun itu. Ia terlihat seperti titik hitam dari ujung sebelah sini. Mengapa aku merasa ingin kembali dan menyimpannya ya? Mungkin aku bisa mulai mengoleksi daun kering, pikirku lagi. Koleksi? Apa sih! Kalau aku mau mengoleksi daun kering, aku bisa mengumpulkan daun-daun disekelilingku yang jatuh dari pohon besar ini. Daun-daunnya lebih banyak dan terlihat lebih bagus. Aku bisa langsung dapat satu buku besar bila saja aku mau.

Ah sudahlah! Aku toh bukan mahasiswa kehutanan yang mengumpulkan daun-daun untuk dipelajari bentuknya, pertulangannya, warna helainya, komposisinya, atau ciri khusus yang lain karena ingin lulus mata kuliah dendrologi. Maka aku balikkan badanku kearah lain, hingga tak tampak olehku daun itu. Peduli amat sih!

Tapi aku kok ngga tega ya. Mengingat mungkin daun itu akan terinjak-injak oleh orang-orang yang akan lewat, atau mungkin tersapu oleh petugas kebersihan dan berakhir di tempat sampah, atau mungkin diterbangkan angin kejalan raya dan tergilas mobill yang lalu lalang.

Dengan perasaan aneh, hampir saja kubalikkan badan lagi karena seperti terdengar olehku, daun itu menyeru memanggilku untuk kembali. Ah, ilusi romantis tentang jiwa dalam benda mati! Konyol amat sih aku ini. Tapi aku toh tetap menoleh dan memandangnya. Sejenak aku ragu, sampai akhirnya aku hembuskan nafas panjang, dan melangkah kembali keseberang.

Aku berdiri memandanginya Aku perhatikan bentuknya yang bulat memanjang, dengan rangka yang menyirip. Lalu kupandangi warnanya yang hijau kekuningan dan permukaannya yang mulai mengering. Cantik juga. Yah, apa sih ruginya bila kupungut. Aku bisa menyimpannya antara lembaran buku, dan kemudian melupakannya.

Kemudian terdengar decit keras. Sebuah mobil berjalan kencang tak terkendali di jalan besar yang kosong. Mobil itu berputar beberapa kali, dan kemudian berakhir dengan bantingan keras pada pohon besar tempat kuberdiri tadi di ujung seberang sana.

Sekilas, kudengar daun-daun berbisik memanggil namaku.

25/12/02 hes