Keinginan sebenarnya. Besar. Cukup besar sehingga bisa menimbulkan kecewa. Jadi tentu saja saya takut berharap banyak (walau ada cukup besar yang disembunyikan dalam-dalam) menyayangi cukup besar janin yang ada dalam perut (walau rasa sayangnya tidak akan bisa dijelaskan lewat beratus kata), saya takut kehilangan tapi toh ﷲ tahu kami tidak berhenti berdoa mohon diberi kepercayaan menimang seorang anak.
Kebetulan sekali kakak ipar saya tengah mengandung anaknya yang ke tiga. Tentu saja banyak diskusi setiap kali bertemu (Saya tentu saja lebih banyak bertanya. Banyak ‘pengen’ tahunya). Memang ungkapan “Don’t to be excited” benar adanya mengingat kandungan saya baru diperkirakan berusia 4 minggu. USG kemarin saja baru memperlihatkan kantung janin yang hanya sebesar 10 mm. Subhanallah!
Jadiexcitednya, kami pendam dalam-dalam. Pembicaraan mengenai apa yang akan kami lakukan nanti ketika bayi kami lahir, kami simpan dulu rapat-rapat. Kadang ‘gereget’ juga tidak sabar merasakan ada bayi dalam perut yang menendang-nendang, tapi lagi-lagi ﷲ tentunya mau kami selalu bersabar menghadapi segala proses hidup. Karena kehamilan ini buah kesabaran dan tentu saja hasil kesabaran selalu lebih manis.
Entah karena sedang mengalami perubahan hormon, kadar kesensitifitasan saya (yang sudah sangat tinggi dari sananya) meningkat beberapa kali lipat. Konon, kalau sedang hamil segala keinginan sebaiknya dituruti guna menyenangkan hati sang calon ibu. Tentu saja supaya bayinya juga senang karena konon lagi, si bayi cenderung memahami gejolak hati si ibu. Jadi sebaiknya jangan biarkan calon ibu yang tengah mengandung bersedih hati dan berduka lara.
Peran suami selama proses kehamilan juga sangat besar. Seperti yang saya bilang pada suami saya “..butuh banyak sekali tabungan sabar dan pengertian yang lebih dari sekedar cukup, guna memahami peningkatan kesensitifitasan ibu hamil dan kegalakannya yang kadang maha dahsyat..” Ngeri? Ah, itukan hanya kiasan, kadang malah lebih galak suami kok kalau saya mulai rewel tidak jelas keinginannya (he he..).
Tapi, memang ya, segala sesuatu itu harus ikhlas. Calon ibu harus ikhlas menahan rasa sakit yang mendera seluruh tubuh bahkan emosi yang tidak menentu, sang calon ayah juga ikhlas menghadapi resah gelisah jiwa raga istrinya yang sedang mengandung anak mereka (termasuk kadar kecemburuan yang bertambah semakin tidak jelas). Kerjasama tim itu diperlukan dalam sebuah rumah tangga, malah ‘kudu’ lebih kompak dan solid.
...
Wednesday, January 12, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments: