Sunday, April 03, 2005

Taman Meksiko dan Jembatan 'Aki'

Hari Sabtu kemarin (26/03/05) saya dan suami pulang ke Bogor. Kami berniat untuk jalan-jalan Minggu pagi (27/03/05). Sekadar menyegarkan diri dengan menghirup udara 'kaki gunung' yang masih segar.

Tanpa diduga-duga jalan-jalan pagi itu berbelok menjadi sebuah perjalanan yang mengesankan ke Taman Meksiko dan Jembatan 'Aki' di Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Bogor adalah paru-paru Kota Bogor. Halaman belakang Istana Bogor ini dipenuhi dengan koleksi tumbuhan dari berbagai tempat di dunia.

(Suami saya menyama-nyamakan tempat ini dengan Central Park di New York, bedanya di sana taman kota bisa dimasuki dengan gratis, di sini Kebun Raya harus membayar Rp 5000 per orang)

Masyarakat Bogor mungkin banyak meremehkan 'kebun' ini, karena hampir tiap hari mereka melewati sekelilingnya. Padahal, jika ingin melihat lebih dekat, ada banyak hal yang cukup menarik di Kebun Raya Bogor.

Jalan-jalan kami pagi itu membuka mata pada beberapa area yang selama ini agak asing buat kami. Misalnya, sebuah taman bernama Taman Theysman di sisi barat Kebun Raya. Contoh lain lagi, habitat kalong di dekat Taman Theysman, hutan bambu, tempat tumbuh Bunga Bangkai (yang dikelilingi oleh hutan sepi yang agak seram).

Jalan-jalan kami pagi itu juga membawa kami ke sebuah tempat bernama Taman Meksiko. Ada Meksiko di Kebun Raya Bogor! Sayang sekali kami tidak membawa sombrero.

Taman ini sepi dan (kami yakin sekali) jarang dilalui orang walaupun Kebun Raya sedang ramai sekalipun. Beberapa pohon yang tumbuh di sana lebih banyak yang berjenis kaktus. Beberapa diantaranya sudah sangat tua (terlihat dari bagian bawah pohon kaktus yang tidak lagi berwarna hijau -seperti bagian atasnya yang hijau- tapi hampir serupa dengan batang pohon yang berkulit). Kaktus yang kami lihat ini bisa jadi merupakan salah satu dari jenisSaguaro Group.

Jenis lain yang ada dalam Taman Meksiko ini adalah Prickly Pears yang batangnya pipih, lebar (hampir menyerupai daun, fungsinya juga hampir sama dengan daun), dan berduri. Sayangnya, beberapa tanaman ini di ukir oleh orang-orang yang tidak berprikekaktusan. Mereka berpikir dan mungkin merasa hebat dengan mengukir nama mereka di tanaman malang ini. Bakal terkenal juga engga, siapa yang mau lihat juga gitu loh!

Taman Meksiko didesain sedemikian rupa sehingga tumbuhan seperti ditanam diatas pasir dan bebatuan. Walapun mungkin pada kenyataannya di Kebun Raya Bogor ini, pasir dan bebatuan hanya tambahan, bagian dari desain.

Selain beberapa jenis kaktus. Kami menemukan juga pohon-pohon kamboja yang menaungi taman ini. Jadi tambah oke sih, tapi emang ada pohon kamboja di Meksiko?

Bunga-bunga dari pohon Kamboja ini berguguran di antara jalan setapak bebatuan dalam taman dan di jalanan aspal (jalan yang bisa dilalui mobil). Jalanannya bersih tanpa sampah, mungkin karena sering dibersihkan tapi tidak pernah dilewati. Jadi bunga-bunga yang jatuh itu tampak bagus di jalan aspal taman yang teduh tapi terang itu.

Suami saya dengan senang hati mencopot sendal jepitnya dan berlarian menari-nari di jalan aspal sepi itu. Kata saya juga coba bawa sombrero!

Sungai (kalau nggak salah) Cisadane membelah Kebun Raya Bogor menjadi dua bagian. Taman Meksiko merupakan salah satu jalan penghubung antar keduanya. Untuk mencapai bagian kebun yang lain dan menyebrangi sungai terdapat sebuah jembatan tua berwarna merah.

Jembatan tua berwarna merah ini merupakan tipe jembatan suspension atau jembatan gantung. Penahan utama jembatan ini adalah kabel besi fleksibel yang terlentang antara satu sisi dengan sisi yang lain.

Well, jembatan gantung memang istimewa karena jembatan ini bisa merentang dengan jarak yang cukup jauh tanpa harus membuat pilar-pilar kuat yang menyangganya di tengah-tengah. Contoh yang paling terkenal adalah The Golden Gate of San Fransisco.

Tapi yang paling istimewa adalah jembatan gantung merah di Kebun Raya Bogor ini dibuat oleh kakek saya! Memang tidak ada bukti tertulis, hanya salah satu dari cerita dalam sejarah keluarga.

Beliau adalah seorang yang pada jaman sekarang lebih dikenal sebagai pemborong yang juga ahli teknik sipil sekaligus arsitektur. Jadi (katanya) sang kakeklah yang 'mengarsiteki' pembangunan jembatan ini.

Betul atau tidak? Jangan tanya. Tapi bangga juga kalau memang begitu adanya.

Karena saya orang sunda dan saya memanggil kakek saya dengan sebutan Aki maka saya dan suami (yang pasti bangga juga menjadi cucu menantu dari kakek saya) mengklaim jembatan itu dengan nama Jembatan Aki. Walau pada saat kami berada di atas jembatan itu kami bernyanyi "..jembatan merahh..la la la ..". Daaaa!

Kami mengakhiri jalan-jalan kami di Kebun Raya Bogor dengan lomba lari. Siapa yang menang? Tebak saja sendiri, yang jelas sesudah itu kami mentraktir diri dengan dua porsi soto kuning dan saya dipersilahkan memilih bagian yang paling banyak dagingnya :)

0 comments: