Thursday, June 02, 2005

it's a whole months

..Uahmmmmm.
well, sudah waktunya duduk lagi didepan komputer dan mulai lagi belajar!

Kanker ibu dan Kesabaran

Setelah banyak observasi dan beragam tes, ternyata dokter tidak menemukan apa-apa dalam tubuh ibu sebagai awal dari kanker yang di derita ibu. Saat ini obat yang dapat menyembuhkan ibu hanya doa. Hanya doa yang dapat menghimpun kekuatan mengusir mimpi buruk dan semua rasa sakit dari diri ibu. Kekuatan yang juga amat diperlukan bapak dan anak-anak ibu.

Satu malam waktu ibu sedang ada di rumah sakit, suami saya dan abangnya bercerita panjang lebar. saya tahu kalau 'digoyangkan' sedikit saja, mereka pasti akan menangis tersedusedu. Rasanya kerinduan menyebar tajam di udara. Seperti, kalau saja bisa, mereka akan kembali ke masa lalu dan membawa ibu yang sehat ke masa yang sekarang.

Kondisi ibu membaik memang. Beliau sudah dapat berbicara lebih banyak dan mulai lagi menulis. Semoga memang Tuhan limpahkan mukjizatNYA pada ibu. Tapi saya tahu kekhawatiran di diri kami belum surut. Seperti menanti sesuatu, kami hanya bisa pasrah.

Sewaktu kondisi ibu amat buruk, tidak terdengar satu bahkan sepetik saja keluhan dari mulutnya. Padahal tumor yang sudah menyebar di otaknya itu, kata orang-orang, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Mungkin berpuluhpuluh lebih sakit dari keguguran yang saya rasain bebulan yang lalu. Astagfirullah!

Itu Tuhan. Tuhan yang membalikkan keadaan. Ketika otak adalah 'senjata' ibu untuk mengarungi dunia, Tuhan mengambilnya dari ibu. Tapi Tuhan memberikan ibu 'senjata' lain yang lebih dahsyat yang bisa meluruhkan setiap dosa yang menempel pada diri ibu. Tuhan menurunkan kesabaran pada ibu tanpa batas.

Kelahiran dan Batas Sabar

Kakak ipar saya melahirkan bayi lelaki, Aditya Amirul Mukmin. Cucu lelaki pertama di keluarga ini. Aditya sang pemimpin, kalau tidak salah begitu arti namanya.

Kecemburuan diantara anak-anaknya yang lain mulai merebak. Kehadiran bayi mungil , lelaki pula, amat dinanti. Otomatis semua perhatian dan luapan rasa sayang mengalir pada si pendatang baru ini. Kadang kasihan juga sih, kakak-kakak Adit ini jadi sering kena marah ibu dan bapaknya kalau sedikit saja berulah. Misalnya, "Ayo jangan bandel! Udah jadi kakak juga!", "Kalo dibilangin dengerin, kamukan sudah punya adik sekarang!", dan lain-lain yang berembel-embel demikian. Kalau dipikir-pikir, mereka minta adik juga ngga!

Jadi orang tua dengan anak-anak yang masih sangat kecil memang susah kali ya? Perlu kesabaran yang sangat tinggi. Paling tidak kemampuan untuk mengendalikan rasa cape di diri sendiri. Karena kalau rasa cape ngga bisa kita kendalikan, kemungkinan adalah dia yang malah mengontrol dan kemudian meledakkan emosi kita.

Kata suami saya, sebagai calon orang tua (muda) kita harus mampu mempelajari apa kemauan si anak. Bukan memaksakan kemauan kita -dimana kalau tidak dituruti oleh si anak, kita akan mengamuk- tapi ikuti kemauan si anak dan cari jalan sehingga dapat mengintegrasikan keinginan kita dan keinginannya. Emangnya gampang?

Ya itu tadi, ngga boleh membatasi sabar!

Lelah dan Uji kesabaran

Saya hampir meledak karena rasa capai yang saya hadapi beberapa waktu silam. Capai fisik dan juga dari pikiran yang mulai berat di kepala.

Tapi sebuah perhatian kadang bisa melumerkan rasa capai sebanyak apapun. Saya beruntung banyak yang memperhatikan saya disini. Mungkin karena perawakan saya yang kecil jadi banyak yang kasihan sama saya atau kalau saya lagi ge'er, saya berpikir mungkin karena semuanya sayang sama saya.

Beberapa hari yang lalu saya curhat sama kakak ipar saya yang paling besar. Asyik! Well, sebelumnya saya memang ngga punya kakak perempuan buat cerita-cerita. Kalau cerita-cerita sama yang sebaya sih sering tapi kadang pemikiran dan emosinya sama, jadinya ngga ada solusi. Sama mbaku enak, pemikirannya banyak mirip dengan pemikiran suami saya dan karena dia juga perempuan jadi dia tahu persis bagaimana menyampaikannya sama saya. Lewat hati lalu ke otak.

Subhanallah! Sesungguhnya kalau kita ingin melihat kebesaran Tuhan maka lihatlah pada halhal kecil yang kita sepelekan karena kita tidak sabar. Lalu kita kemudian akan tersuruk bersyukur bahwa kita mampu melihatnya dengan mata kepala kita sendiri. Hal-hal sederhana itu yang mungkin akan menyelamatkan diri kita dari jajahan dunia.

0 comments: