sepeninggal ibu keadaan rumah menjadi tegang. saya baru merasakan sosok yang begitu berpengaruh yang menjadi penyeimbang (sekaligus penyejuk) sebuah rumah. saya sendiri merasakan ketegangan itu menusuk tusuk kepala saya hingga memaksa saya untuk terus gelisah.
khilaf saya, Tuhan. membiarkan diri dibelenggu oleh amarah dan dendam. khilaf yang memaksa saya merelakan 'damai' lepas. 'damai' yang seharusnya saya ciptakan untuk meredakan banyak kelelahan yang mengguncang rumah kami.
katakata menjadi tak terkendali prasangka berdatangan tak kenal waktu sehingga resah seperti virus yang mengeruhkan hati. membasikan nurani. saya akhirnya melarikan diri tanpa ada berita tanpa tahu kapan akan pulang?
..maaf ibu saya belum bisa. nyatanya saya cuma anak yang tak pandai bersyukur.
khilaf saya, Tuhan. saya menghabiskan banyak tabungan yang seyognyanya saya niatkan untuk ke surga dengan berfoyafoya mengumbar emosi.
hest.
Tuesday, June 28, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments: