Thursday, July 07, 2005

Komentar bukan komentaria: Filsafat Apak

...kenangan adalah daily diversion yang patut dinikmati bagai secangkir cup-a-cino di kafe berkarat di bilangan Cilandak Town Square(wsh, 2005)

Mengurai pemikiran mereka lebih sulit dari mematahkan beratus lidi dalam satu ikatan. Kadang apa yang aku urai selalu terbalik atau apa yang aku pikir adalah tidak benar. Tapi sejenaklah, aku mengungkap resah mengumbar gelisah setelah ini aku akan mematahkan lidi-lidi itu satu per satu hingga ruah tak berguna.

Membaca berlembar-lembar 'kisah kasih pemikiran' mereka dalam filsafat apak akhir-akhir ini agak melankolis. Deraian filsafat-filsafat mereka tentang hidup akhir-akhir ini agak sendu.

Secuplik kenangan masa silam berbalut putih abu-abu memang kerap mengharukan. Apalagi ketika kenangan itu sampai di saat diri sedang berperih-perih dengan dunia yang kini.(wsh,2005)

Ku kira demikian. Hidup kini adalah kini. Sesuatu yang boleh jadi berbalut beban, tapi mesti siap dipikul.(mh,2005)

Aku berpikir, apakah mereka menumpahkan setiap lalu dalam bejana, tapi yang mereka lihat adalah kini yang perih menyayat terbebani oleh tumpukan waktu yang terlalu berat ditanggung?

aku berurai lirih.

Menjadi peminat filsafat apak mereka, akhir-akhir ini aku merasa masygul. Memorabilia kerap menjadi bahan pembicaraan utama yang syahdu. Tetapi, pikirku, kenangan itu ternyata ada waktunya, terhenti pada sebuah masa yang begitu lekat dan menghapus bagian lain setelah itu.

Aku benar-benar merasa masygul. Bukan hidupkah hari ini?

Kini hidup lebih dari sejumput kenangan. Sudah saatnya tidak harus kita gali terus sumur kenangan itu. Harus mulai kita pikirkan pokok tanaman untuk bekal kemudian. Telah begitu banyak kita nikmati tamasya hidup, menjadi kelana muda yang merdeka. Kurasa tiba, saatnya menjadi kembara santun. (mh, 2005)

Tapi pada akhirnya, sebagai seorang pengagum karya dan asa milik mereka, juga sebagai seseorang yang pernah hidup dalam sekelebat masa dalam kenangan mereka, aku mengacungkan banyak jari untuk tekad mereka mengarungi dan mengantungi kenangan hingga mereka sampai pada kini dan lahir untuk esok.

ah. masa lalu kadang perih tapi menjanjikan. atau justru masa depan yang nostalgis tapi tak bisa dilepaskan?(wsh, 2005)

Lagi, aku bukan pemesan dan mereka juga tidak menerima pesanan. Aku bukan kritikus dan mereka juga tidak butuh kritik -atau komentar- (dalam blog Filsafat Apak). Aku pembaca dan mereka yang silih menulis. Aku toh cuma penikmat dan mereka pemikirnya.

Well, pada kenyataannya..

kabar baik,
detlen dah kelar, finally, alhamdulillah...
ah, mengenang kenangan itu kan hanya intermezzo ajah di kala detlen..
now...i have to look forward...
"Hidupku adalah hari ini...."
(wsh, 2005)

Permisi aku hanya singgah sebentar,
HestiPratiwiafwiani

3 comments:

Wicak said...

sudut pandang memang kerap jadi pertanyaan yang menyulitkan. apalagi bila dilihat dari emosi pribadi.

pada akhirnya perlu juga kau pahami, kini dan nanti adalah yang paling berarti.

(wsh, 2005)

sa said...

hehe.. menarik. pasangan yg menarik.:)

salam kenal. met gabung dg blogfam, hes. acc membernya sdh diaktifkan. ditunggu sapa nya di perkenalan ya.

salam
sketsahati dot com

jpro52ofdf said...
This post has been removed by a blog administrator.