Monday, July 04, 2005

melankolis! terlalu

Jam 5.30, aku terperanjat! Sudah terlalu siang. Terlambat sahur lagi hari ini. Niat puasa yang tadinya sudah ditenggorokkan harus ditelan lagi. Mpok mulai hari ini tidak masuk lagi. Jadi aku sendiri yang harus bergegas menyiapkan teh panas dan sarapan untuk pagi ini.

Badan rasanya malas banget diangkat. Tidak ada acara membuat bekal. Tidak ada cara mengucapkan selamat pagi pada suami hari ini. Besok? Mungkin aku, masih harus terperanjat sendiri.

Aku mengetuk perlahan pintu kamar mandi yang tertutup. Tidak ada siapa-siapa. Perlahan aku buka. Air mengucur dari kerannya. Air yang memenuhi bak mandi tertumpah ruah di lantai kamar mandi. Cepat kumatikan. Wudhu dan bergegas sholat kesiangan.

Aku melipat pakaian yang berantakan di kamar. Merapikan selimut, mematikan kipas angin, dan mengganti seprai. Jendela berdebu yang menghadap ke jalan masih belum kubuka. Biasanya suami yang membukanya. Membiarkan angin dingin pagi dan deru kendaraan bermotor yang lalang di jalanan masuk dalam kamar. Lalu meringkuk lagi dibawah selimut. Aku tergugu. Aku tinggalkan kamar.

Tumpukan baju kotor dan piring kotor menjadi kewajibanku sekarang. Aku selesaikan perasaan melankolisku dan mulai mencuci. Tugas pertama beres. Gampang. PIring dan gelas rapih bertengger di raknya. Tugas kedua akutinggalkan karena mesin masih perlu waktu untuk memutar baju-baju penuh keringat dan debu jalan.

Sapu dan sampah. Aku meringis. Kok aku seperti ratu yang tak pernah menginjak dapur? Kubereskan sisa makan semalam. Kardus bekas aku jadikan tempat menampung sampah yang menggunung. Sekarung beras yang menghalangi jalan, kupindahkan. Sekarung beras? Wa, mbakyu-ku lupa membawanya pulang tadi malam.

Aku mengais sayur-sayur layu di kulkas. Masak apa untuk sarapan? Rasanya ngga semangat. Harusnya hari ini aku menyiapkan bekal makan siang dan sarapan pagi untuknya. Aku simpan tempat makan yang kupegang. Sedari kapan tempat makan ini ada di tanganku?

Aku selesaikan cepat perasaan melankolisku. Masih ada debu yang harus disapu. Masih ada cucian yang harus diselesaikan. Nasi hangat siap. Aku memasaknya dengan pemasak nasi milik ibu mertuaku. Beliau sebenarnya tidak suka alatnya itu digunakan untuk memasak tapi apa boleh buat rice cooker milik beliau lebih menghemat waktu dari pada harus memasak dengan dandang.

Beres. Mudah. Baju-baju yang belum diseterika? Aku masih punya waktu nanti siang. Buku-buku berdebu dan ranjang yang harus dipindah.

Jam 13.10, aku terperanjat! Aku terbelenggu jengah. Dering telepon sejak tadi malam pagi siang ini dan semua kabar mendengung gelisah di telingaku. Harus kukelarkan perasaan melakolisku dan mulai bangun untuk bebenah.

hup! hup!

2 comments:

Wicak said...

dear,
insya Allah nanti kita akan jalan-jalan berdua. seperti yang kita pingin dari dulu.

'mzn u so much'

Wicak said...
This post has been removed by a blog administrator.