Aku sedang menyusun buku di rak ketika.. Gabruk! Bruk! Brak!
Email balasan dari seorang teman terlempar ke rak dan menjatuhkan beberapa buku sekaligus ke lantai kayu kamar kami. Kamar kami yang berada dilantai dua tepat berada diatas kamar bapak. Suara gedubrak tadi pasti mengagetkan bapak yang sedang tidur siang dibawah.
Cepat aku buka surat tanpa amplop itu. Isinya padat. Aku terkekeh membacanya. Antara senang dan cemas. Seseorang sedang jatuh cinta. Antara cemas dan senang. Seseorang yang lain menanti pasti.
Aku lupakan sejenak susunan buku yang berantakan dan tulisan yang masih menggantung. Aku siapkan kata-kata dan menyatukannya. paragraf demi paragraf. Sebuah surat selesai. Tanganku mengetuk ketuk tombol-tombol yang berseliweran di keyboard. Sebuah surat selesai. Mataku awas mengamati huruf-demi huruf yang masih bermunculan di layar. Sebuah surat selesai. Aku menarik nafas. Sebuah surat panjang selesai.
Aku termanggu.
Aku menengok meja tulis berharap melihat amplop yang bisa langsung mengirimkan surat ini langsung padanya. Aku mendapati debu. Aku buka laci lemari berharap menemukan amplop yang bisa membawa suratku padanya. Aku mendapati pena kosong. Aku lihat sela-sela buku buku berharap memiliki amplop yang akan menerbangkan suratku langsung padanya. Aku mendapati daun jatuh .
Aku masih termanggu.
Suratku harus segera kukirim. Suratku harus segera mengabarkan betapa aku senang. Suratku harus cepat memberitahukan padanya betapa aku cemas.
Akhirnya aku cuma menyentuh surat tak beramplop. Kata-kata bermunculan,
Gud lak ya, De. Gw percaya lo bisa ngambil keputusan yang bijak yang bisa ngebahagiain hati lo dan dia.
Tuesday, July 05, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments: