Friday, August 26, 2005

Kupu dan Ulat: Sebuah Balada

kau putus asa tua?
tanya seekor ulat muda pada kupu-kupu yang hinggap di selembar daun
kupu-kupu menggeleng, aku ketakutan

soal apa, tanya ulat muda itu lagi sambil menelengkan kepalanya
kupu-kupu mengepakan sayapnya
kehilangan keindahanku, katanya parau

ulat tersenyum, aku buruk bukan tua?
kupu-kupu itu memandangi si ulat, ya, kau buruk dan berbulu
tapi aku punya cita-cita jadi aku tak peduli, kata si ulat

kupu-kupu itu menutup sayapnya, cita-cita?
ulat mengangguk-angguk, ya, cita-cita yang membuat kita beranjak dan bangun
kupu-kupu menelengkan kepalanya sekarang

aku sudah lupa tentang cita-cita
karena kau sudah kehilangannya tua, sahut ulat sambil merajut sebuah kepompong putih
kehilangan? tanya kupu-kupu itu memandang ulat yang mengangguk-angguk

kau tahu ketika kau memiliki cita-cita hidupmu selalu terbuka
kupu-kupu mengangguk, aku ingat
kau menanti dan menanti kau membiarkan cita-cita itu membuka jalanmu dan juga hatimu

kupu-kupu terbang sejenak dan kembali
aku ingat waktu itu aku masih belum memiliki apa-apa, katanya sambil mengatupkan sayapnya yang indah
ulat muda itu tertawa, memiliki? ah tua, dunia itu semu

semu? tanya kupu-kupu lagi
ulat menguap, ya, kau selalu membandingkan dirimu dengan dunia yang semu hingga kau selalu ketakutan
aku? aku hidup di dunia yang selalu menghakimiku, gerutu kupu-kupu yang mulai marah

ulat tersenyum, begitulah karena kau membiarkannya
aku? o tidak kau salah, kupu-kupu menggeleng-geleng
salah? benarkah? ulat masih tersenyum, ia mengelurkan benang dan jarum rajut

o tua, tidak sadarkah kau, dunia sudah memaksamu kehilangan keberanian? ulat menggeliat
keberanian untuk apa? kupu-kupu duduk disamping ulat

keberanian untuk apa katamu? kau takut kehilangan keindahan tapi selain itu apa kau masih ingat tentang cita-cita? ulat mendesak
kau bicara lagi tentang cita-cita, ada apa dengan keberanian dan cita-cita? kupu-kupu tak sabar

dunia memaksamu kehilangan keberanian untuk mempertahankan cita-citamu, ulat menguap lagi tangannya sibuk merajut
dunia tidak menghakimimu tua kau yang menghakimi dan menjatuhkan hukuman pada dirimu sendiri, kupu-kupu diam

ulat berdehem, kau mengerti? tidak ada yang sempurna
kupu-kupu memejamkan matanya, aku kehilangan cita-cita hingga hatiku tertutup dan berdebu itu kenapa aku selalu merasa marah dan ditinggalkan, betulkah seperti itu ?
ulat memasang kepompongnya pada sebuah ranting, ya

kupu-kupu menunduk, jadi aku bukan ketakutan?
ulat menggeleng, kau hanya kehilangan keberanian untuk memiliki cita-cita lagi
apa aku masih bisa memilikinya? kupu-kupu bertanya

tentu, kau masih bisa melihatnya di hatimu, ikuti cita-citaku
kupu-kupu membuka sayapnya, apakah cita-citamu muda?
ulat muda itu masuk dalam kepompongnya yang putih, samar-samar kupu-kupu mendengar suaranya dari dalam kepompong takutlah lalu kau akan temukan keberanian

0 comments: