kau putus asa tua?
tanya seekor ulat muda pada kupu-kupu yang hinggap di selembar daun
kupu-kupu menggeleng, aku ketakutan
soal apa, tanya ulat muda itu lagi sambil menelengkan kepalanya
kupu-kupu mengepakan sayapnya
kehilangan keindahanku, katanya parau
ulat tersenyum, aku buruk bukan tua?
kupu-kupu itu memandangi si ulat, ya, kau buruk dan berbulu
tapi aku punya cita-cita jadi aku tak peduli, kata si ulat
kupu-kupu itu menutup sayapnya, cita-cita?
ulat mengangguk-angguk, ya, cita-cita yang membuat kita beranjak dan bangun
kupu-kupu menelengkan kepalanya sekarang
aku sudah lupa tentang cita-cita
karena kau sudah kehilangannya tua, sahut ulat sambil merajut sebuah kepompong putih
kehilangan? tanya kupu-kupu itu memandang ulat yang mengangguk-angguk
kau tahu ketika kau memiliki cita-cita hidupmu selalu terbuka
kupu-kupu mengangguk, aku ingat
kau menanti dan menanti kau membiarkan cita-cita itu membuka jalanmu dan juga hatimu
kupu-kupu terbang sejenak dan kembali
aku ingat waktu itu aku masih belum memiliki apa-apa, katanya sambil mengatupkan sayapnya yang indah
ulat muda itu tertawa, memiliki? ah tua, dunia itu semu
semu? tanya kupu-kupu lagi
ulat menguap, ya, kau selalu membandingkan dirimu dengan dunia yang semu hingga kau selalu ketakutan
aku? aku hidup di dunia yang selalu menghakimiku, gerutu kupu-kupu yang mulai marah
ulat tersenyum, begitulah karena kau membiarkannya
aku? o tidak kau salah, kupu-kupu menggeleng-geleng
salah? benarkah? ulat masih tersenyum, ia mengelurkan benang dan jarum rajut
o tua, tidak sadarkah kau, dunia sudah memaksamu kehilangan keberanian? ulat menggeliat
keberanian untuk apa? kupu-kupu duduk disamping ulat
keberanian untuk apa katamu? kau takut kehilangan keindahan tapi selain itu apa kau masih ingat tentang cita-cita? ulat mendesak
kau bicara lagi tentang cita-cita, ada apa dengan keberanian dan cita-cita? kupu-kupu tak sabar
dunia memaksamu kehilangan keberanian untuk mempertahankan cita-citamu, ulat menguap lagi tangannya sibuk merajut
dunia tidak menghakimimu tua kau yang menghakimi dan menjatuhkan hukuman pada dirimu sendiri, kupu-kupu diam
ulat berdehem, kau mengerti? tidak ada yang sempurna
kupu-kupu memejamkan matanya, aku kehilangan cita-cita hingga hatiku tertutup dan berdebu itu kenapa aku selalu merasa marah dan ditinggalkan, betulkah seperti itu ?
ulat memasang kepompongnya pada sebuah ranting, ya
kupu-kupu menunduk, jadi aku bukan ketakutan?
ulat menggeleng, kau hanya kehilangan keberanian untuk memiliki cita-cita lagi
apa aku masih bisa memilikinya? kupu-kupu bertanya
tentu, kau masih bisa melihatnya di hatimu, ikuti cita-citaku
kupu-kupu membuka sayapnya, apakah cita-citamu muda?
ulat muda itu masuk dalam kepompongnya yang putih, samar-samar kupu-kupu mendengar suaranya dari dalam kepompong takutlah lalu kau akan temukan keberanian
Friday, August 26, 2005
Saturday, August 20, 2005
Worst day ever: sebuah fiksi
Aku berjingkat menuju kamarku, membuka pintu perlahan, dan menutupnya. Nyaris tanpa suara. Aku lelah sekali. Beberapa pakaian kotor tersampir di kursi. Biasanya aku langsung membereskannya dan menaruhnya di kamar mandi tapi kali ini rasanya malas sekali. Setelah mengganti bajuu yang kotor tercirat lumpur, aku berbaring di samping tubuh suamiku yang lelap. Kepalaku berdenyut nyeri juga dadaku sebelah kiri.
Tiga jam sebelumnya, ia memakiku di telepon. Mengatakan apa gunanya mempunya istri bila suami pulang tidak di rumah malah keluyuran di jalan. Rumah terkunci dan ia tidak bisa masuk. Padahal kuncinya kutitipkan di tetangga sebelah seperti biasa bila kami bepergian. Padahal juga ia tahu aku sedang memeriksakan diriku ke dokter. Ia bilang tidak bisa mengantarku karena harus rapat sore ini.
Halte bis yang penuh oleh orang yang berteduh dari hujan bertambah sumpek rasanya. Aku masih belum bisa pulang. Bis yang aku tunggu untuk tumpanganku sampai di rumah belum lewat sedari tadi. Sementara untuk naik taksi dan merogoh satu-satunya lima puluh ribuan dari dompetku rasanya tidak mungkin. Masih ada dua hari lagi sampai akhir bulan dan besok kami harus makan.
Perutku nyeri sekali. Aku sadar aku belum makan dari tadi siang. Aku memegangi dadaku yang juga terasa nyeri. Aku baru saja pulang dari dokter. Dokter Ana yang menjadi langgananku mmeriksakan diri, sedang cuti. Ia digantikan oleh seorang dokter lain. Dokter laki-laki. Seharusnya aku pergi saja tadi, tidak perlu periksa hari ini. Tapi rasa sakit didadaku, di payudara sebelah kiri, semakin menjadi-jadi dan aku sudah hampir tidak tahan. Sehingga aku putuskan untuk memeriksakan diri pada dokter penganti itu.
Aku memaksakan diri untuk bersikap biasa sewaktu dokter itu menyentuh payudaraku. Meremasnya dan menekannya. Aku merasa jijik. Lama ia memandangi bukit-bukit di dadaku ini. Tangannya bergetar. Bergegas aku mengenakan lagi pakaianku. Perasaanku tidak enak. Dokter jalang!! Rutukku menangis.
Saran dokter tentang USG payudara tidak kudengarkan. Aku sudah melakukan kesalahan besar dengan membiarkan laki-laki lain, sekalipun dokter, memegang bagian tubuhku yang sangat pribadi itu. Aku merasa sangat jijik atas diriku sendiri. Peduli amat dengan penyakitku! Batinku sekarang yang terasa nyeri.
Aku berlari dalam hujan. Membiarkan air membasahi langkahku sampai ujung rambutku. Sebagian air yang membasahi wajahku mungkin air mata. Sebuah mobil yang melintas kencang mencipratiku dengan air kubangan yang memenuhi jalanan.
Hari ini aku mendapat dua kabar buruk beruntun. Kakakku mengalami kecelakaan. Bapak dan ibu langsung terbang dengan Garuda beberapa saat setelah mendengar kabar itu.
Saat ini ia masih berada di icu dan mengalami kelumpuhan sementara begitu kata bapak meneleponku, "...Dan," tambahnya dengan nada yang membuatku tambah khawatir. Ibu mendapatkan serangan jantung sesaat setelah melihat kondisi kakakku.
Aku lemas sekali. Ibu pasti sangat shock sehingga jantungnya yang lemah harus mengalami serangan. Kakakku mendapatkan banyak jahitan dan balutan di sekujur tubuhnya, membuatnya hampir seperti mayat yang hanya hidup dengan bantuan mesin-mesin yang menopangnya. Aku tersungkur di lantai.
"Tenang, An, kamu berdoa saja. Tuhan pasti memberikan hikmah dari semua musibah ini", bapak berkata dengan tegar walau aku yakin sekali air mata pasti menggenangi matanya, mungkin juga mengalir di wajahnya yang keriput.
Kamu harus ke dokter memeriksakan dadamu yang sakit itu, pesannya sebelum menutup telepon. Maka aku berangkat ke dokter. Mas bimo tidak bisa kuhubungi. Handphonenya tidak aktif dan orang kantornya bilang ia masih rapat. Aku tidak menitipkan pesan apa-apa pada mereka. Aku akan memberitahu berita ini padanya sepulang ia dari kantor nanti.
Sekarang aku berada di sampingnya. Mendengarkan nafasnya yang teratur. Tidak kuasa membangunkannya dan mengatakan padanya hari ini adalah hari terburukku, jangan melengkapinya dengan pertengkaran. Tapi aku hanya berbaring memandang langit-langit kamar. Merasa sangat lelah dan mengantuk. Berharap ketika besok bangun, semua ini hanya mimpi.
Tiga jam sebelumnya, ia memakiku di telepon. Mengatakan apa gunanya mempunya istri bila suami pulang tidak di rumah malah keluyuran di jalan. Rumah terkunci dan ia tidak bisa masuk. Padahal kuncinya kutitipkan di tetangga sebelah seperti biasa bila kami bepergian. Padahal juga ia tahu aku sedang memeriksakan diriku ke dokter. Ia bilang tidak bisa mengantarku karena harus rapat sore ini.
Halte bis yang penuh oleh orang yang berteduh dari hujan bertambah sumpek rasanya. Aku masih belum bisa pulang. Bis yang aku tunggu untuk tumpanganku sampai di rumah belum lewat sedari tadi. Sementara untuk naik taksi dan merogoh satu-satunya lima puluh ribuan dari dompetku rasanya tidak mungkin. Masih ada dua hari lagi sampai akhir bulan dan besok kami harus makan.
Perutku nyeri sekali. Aku sadar aku belum makan dari tadi siang. Aku memegangi dadaku yang juga terasa nyeri. Aku baru saja pulang dari dokter. Dokter Ana yang menjadi langgananku mmeriksakan diri, sedang cuti. Ia digantikan oleh seorang dokter lain. Dokter laki-laki. Seharusnya aku pergi saja tadi, tidak perlu periksa hari ini. Tapi rasa sakit didadaku, di payudara sebelah kiri, semakin menjadi-jadi dan aku sudah hampir tidak tahan. Sehingga aku putuskan untuk memeriksakan diri pada dokter penganti itu.
Aku memaksakan diri untuk bersikap biasa sewaktu dokter itu menyentuh payudaraku. Meremasnya dan menekannya. Aku merasa jijik. Lama ia memandangi bukit-bukit di dadaku ini. Tangannya bergetar. Bergegas aku mengenakan lagi pakaianku. Perasaanku tidak enak. Dokter jalang!! Rutukku menangis.
Saran dokter tentang USG payudara tidak kudengarkan. Aku sudah melakukan kesalahan besar dengan membiarkan laki-laki lain, sekalipun dokter, memegang bagian tubuhku yang sangat pribadi itu. Aku merasa sangat jijik atas diriku sendiri. Peduli amat dengan penyakitku! Batinku sekarang yang terasa nyeri.
Aku berlari dalam hujan. Membiarkan air membasahi langkahku sampai ujung rambutku. Sebagian air yang membasahi wajahku mungkin air mata. Sebuah mobil yang melintas kencang mencipratiku dengan air kubangan yang memenuhi jalanan.
Hari ini aku mendapat dua kabar buruk beruntun. Kakakku mengalami kecelakaan. Bapak dan ibu langsung terbang dengan Garuda beberapa saat setelah mendengar kabar itu.
Saat ini ia masih berada di icu dan mengalami kelumpuhan sementara begitu kata bapak meneleponku, "...Dan," tambahnya dengan nada yang membuatku tambah khawatir. Ibu mendapatkan serangan jantung sesaat setelah melihat kondisi kakakku.
Aku lemas sekali. Ibu pasti sangat shock sehingga jantungnya yang lemah harus mengalami serangan. Kakakku mendapatkan banyak jahitan dan balutan di sekujur tubuhnya, membuatnya hampir seperti mayat yang hanya hidup dengan bantuan mesin-mesin yang menopangnya. Aku tersungkur di lantai.
"Tenang, An, kamu berdoa saja. Tuhan pasti memberikan hikmah dari semua musibah ini", bapak berkata dengan tegar walau aku yakin sekali air mata pasti menggenangi matanya, mungkin juga mengalir di wajahnya yang keriput.
Kamu harus ke dokter memeriksakan dadamu yang sakit itu, pesannya sebelum menutup telepon. Maka aku berangkat ke dokter. Mas bimo tidak bisa kuhubungi. Handphonenya tidak aktif dan orang kantornya bilang ia masih rapat. Aku tidak menitipkan pesan apa-apa pada mereka. Aku akan memberitahu berita ini padanya sepulang ia dari kantor nanti.
Sekarang aku berada di sampingnya. Mendengarkan nafasnya yang teratur. Tidak kuasa membangunkannya dan mengatakan padanya hari ini adalah hari terburukku, jangan melengkapinya dengan pertengkaran. Tapi aku hanya berbaring memandang langit-langit kamar. Merasa sangat lelah dan mengantuk. Berharap ketika besok bangun, semua ini hanya mimpi.
Subscribe to:
Posts (Atom)

