19 Minggu usia kandunganku, belum di USG lagi biasanya hanya mendengarkan detak jantung bila periksa rutin ke dokter. Tapi tepat jam 16.25 hari ini (14/01/06) janin di dalam perutku bergerak. Mungkin. Karena aku belum pernah hamil, aku tidak dapat memperkirakan pasti itu gerakan janin atau karena aku sedang lapar?Ada banyak hal yang mencemaskan aku. Aku tahu tidak seharusnya ibu hamil memikirkan hal-hal yang menggelisahkan diri. Tapi mungkin wajar juga mengingat kelak aku harus mampu mengurus segala macam dengan peranku yang sudah berubah, bukan hanya seorang istri dan atau menantu di rumah ini tapi juga seorang ibu.
Aku mengingat teman-teman yang belum menikah -kalau kata Rachel Greene dalam serial Friends ketika Monica Geller akan menikah (baru bertunangan) "Knowing that you'll be married is remind me that i'am not. I'm not even close!"- ..
Seorang teman yang baru bertemu beberapa hari yang lalu bilang, 'Katakatanya Neng (nama seorang teman) ada benarnya juga, Hes. Saat ini apa yang penting bukan lagi nyari dan nemuin cinta yang mengebu-gebu tapi yang penting adalah kita menikah dengan seseorang dan hidup bersamanya'.
Aku diam. Saat itu benarbenar ngga paham. Selama ini aku pikir menikah adalah bagian dari jatuh cinta. Kita harus mencinta dan dicinta sebelum menikah. Tapi ternyata -harus disadari atau tidak, mau diakui atau tidak- cinta tidak selamanya harus menjadi awal dari sebuah pernikahan.
Sebuah dunia pernikahan mungkin selalu akan berbeda dalam sudut pandang setiap orang. Mungkin seperti katamu, mas, dalam Bakiak
"Kita (yang bakiak) dalam mencari jodoh adalah mencari pasangan yang paling pas. Mungkin lebar dan panjangnya tak sama sepadan betul, mungkin karetnya tak sama lunak-kerasnya, mungkin tebalnya njomplang, mungkin beratnya jauh terpaut atau dekat.
Jadi antara satu insan dan insan lain, tak ada yang namanya 'pas' atau 'klop' sepasang layaknya sepatu kiri dan kanan. Melainkan memang kita nih cuma bisa berusaha, mencari pasangan bakiak yang sebisa mungkin paling pas untuk kita."
Aku masih diam sampai sekarang. Sampai sekarang masih benarbenar ngga paham. Tapi ngga penting apa yang menjadi pemahamanku menyangkut keputusan yang akan diambil temanku itu. Dunianya adalah lakon yang hendak dan akan dipahaminya sendiri ngga masalah apa kata orang selama apa yang ia lakonkan memang apa yang ia inginkan.
Seperti aku. Ibu rumah tangga yang sama sekali belum bekrja di usia 26tahun, sedang mengandung, menghabiskan banyak waktunya dengan merunut resepresep yang belum tentu diolah; mengutakatik kodingkoding PHP dan HTML yang belum pernah berhasil; membajak teve seharian dengan menonton serial Friends; menulis ceritacerita pendek yang ngga pernah selesai; menghitunghitung setiap pengeluaran yang selalu melebihi budget. Tentu saja apa yang aku kerjakan mungkin akan membuat dahi beberapa orang berkerut, 'apa ga bosen ya?'.

Tapi lagi, Duniaku adalah lakon yang hendak dan akan aku pahami sendiri ngga masalah apa kata orang selama apa yang aku lakonkan memang apa yang aku inginkan. Menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurusi rumah, suami dan tentunya anakanak kelak pasti lebih menyenangkan kalau aku bisa memahaminya lebih baik.Jadi, apakah lebih sulit menjadi ibu atau mencari pendamping hidup? Jawabannya akan selalu berbeda.
hes. 14/01/06


1 comments:
selamat berjuang ya hesti..
salam kenal..