Monday, March 27, 2006

Bulan Ketujuh, 7 Bulan keajaiban

Tujuh bulan penuh perasaan 'ajaib'nya berbadan 'dua'. Beberapa tahun silam, menikah saja rasanya masih amat sangat jauh terwujud tapi sekarang aku (dan suami) sedang menunggu datangnya hari menimang bayi yang kukandung. Tuhan memang selalu memberikan banyak kejutan dalam hidup. Entah itu kejutan yang manis teramat manis atau kejutan pahit teramat pahit.

Aku kadang masih suka menggelengkan kepala, ngga percaya bahwa hanya dalam hitungan bulan, aku akan menjadi ibu dan suamiku menjadi ayah sementara beberapa tahun silam kami hanya 'remajaremaja' dewasa yang egois dan penuh keinginan untuk hanya bersenangsenang tanpa berpusing memikirkan kewajiban dan tanggung jawab.

Ajaib sesuatu yang bernama waktu itu.

Sepuluh hari setelah keterlambatan kami merasa gugup sewaktu melakukan tes kehamilan di rumah. Sebulan setelah itu kami merasa waswas dengan hasil USG yang akan diberikan dokter. Tiga bulan usia kandungan, kami tertegun mendengar detak jantung si kecil yang berdegup cepat. Empat bulan, kami masih belum percaya bahwa Tuhan akan memepercayakan pada kami seorang anak. Lima bulan, gerakangerakan halus mulai terasa dan teraba (Bayi kami menggeliat). Enam bulan, kami takjub melihat tangantangan kecil yang 'melambai' dan detak jantung yang berdenyut dalam rongga dada (Anak kami ya Tuhan?). Tujuh bulan, bajubaju mulai mengerut dan orangorang mulai bertanya 'Sudah berapa bulan?'.

...

Beragam masalah kehamilan mulai dari makanan hingga kecemasan harus dilalui satu per satu, harus di hadapi waktu demi waktu. Beragam keinginan beragam rasa sakit beragam ke'sensitif'an membetuk kombinasi yang kadang sulit untuk dilalui tanpa rasa perih tapi mungkin itu semua adalah bagian dari 'keajaiban' indahnya hamil.

Rasa takut menghadapi kelahiran nanti mulai menjadi keresahan. Mungkin bukan takut akan rasa sakit -yang belum dapat dibayangkan sekarang-. Lebih karena rasa takut menghadapi sebuah 'kesempatan' bertarung meregang nyawa, apakah aku akan sempat menikmati menggendong bayiku dan menjadi seorang ibu yang membesarkannya? (Ya, Allah selamatkanlah kami berdua).

Rasa sakit yang akan aku hadapi tentunya tidak akan sebanding dengan 'keajaiban' yang akan menjadi obat penyembuh rasa sakit seperti apapun dan yang telah Tuhan percayakan pada kami, setelah aku menggendongnya. (Ya, Allah selamatkanlah kami berdua).

Tapi well, menjadi seorang ibu tentunya perlu keikhlasan dan hanya itulah yang tentunya akan menguatkan aku menghadapi dan menikmati setiap detik saat ini hingga menjelang kelahiran kelak dan insyaALLAH setelah itu.

:)

Friday, March 03, 2006

Ah, ke'melow'an ini..

Aku muncul lagi dengan bejibun keinginan baru. Entah kenapa setiap keinginan..satu dua hari kemudian akan luber dan lumer.

Satu hal saat ini aku ingin sekali berjalan. Kemana saja. Duduk dan merenung di suatu tempat yang agak jauh dari rumah. Melihat daundaun yang belum pernah aku lihat menghirup suasana yang belum pernah aku hirup.

Ah ibu hamil (bahkan yang sedang tidak hamil) adakalanya berada dalam ke'melow'an yang takkan dapat dimengerti orang lain bukan?

Suatu hari aku pernah mengirimkan sebuah surat pada seorang teman yang hingga detik ini memiliki segudang beban yang ditanggung di pundaknya sendirian (seandainya saja ia sempatkan diri membaca ini)..

Puisi jadi bagian dari hidup gw sekarang, segala sesuatu yang ga gw pahami gw tulis menjadi puisi sesuatu yang gw inginkan gw gambarkan dalam puisi semua hal yang menjadi sandungan gw caci maki di puisi.. puisi gw ga pernah bagus. ga. tapi peduli amat toh tidak ada yang menikmatinya selain gw dan kadangkadang sepi (kalau sepi lagi mampir).

kadang gw pengen banget punya keberanian buat ngumpulin karya2 gw dan gw kirim ke korankoran.. apa yang membuat gw ga berani mungkin karena alasan klise. gw takut pada harapan yang akan hadir dalam diri gw dan gw takut kembali kecewa karena harapan itu tdk terwujud hingga mendesak lebih dalam kepercayaandiri gw yang ga pernah timbul menjadi semakin tidak terlihat.

tapi well suatu saat gw akan memasang topeng dan mencoba.


Lalu? Seandainya saja ia membaca..

Sejak lo menelepon gw tentang 'lamaran' itu sejak itu gw kwatir. gw tahu ga semestinya gw kwatir.. gw hrs percaya pada keputusan yang lo buat pada hati yang lo pilih. jadi kalaupun lo memutuskan untuk pergi, pergilah. memang tidak bisa di pungkiri.. ada satu masa dimana kita semua akan pergi karena hidup tidak hanya berkutat di masa lalu atau masa sekarang tapi menuju masa depan.

setiap kali gw meyakinkan diri gw kalau 'kesempatan baik' tidak akan datang dua kali setiap kali dala diri gw selalu timbul pertanyaan apakah kita tahu kalau kesempatan ini memang baik untuk kita? lalu gw akan menggelenggeleng karena memang tidak akan pernah ada orang lain yang bisa menjawabkan pertanyaan itu untuk kita.

rasanya jawabannya harus kita sendiri yang buat. kalau itu sebuah kesempatan maka akan jadi baiklah kalau kita membuatnya baik. jadi kembali lagi, gw hrs percaya pada keputusan yang lo buat dan hati yang lo pilih, siapapun itu dimanapun itu kapanpun itu..krn gw percaya lo mampu membuat sebuah kesempatan menjadi baik buat hidup lo.


'Sementara aku berkeinginan mengenakan topeng hingga timbul keberanian untuk membeberkan karyaku dihadapan orang banyak apakah dia berkeinginan untuk menegakkan diri dan membuka topengnya hingga dapat melanjutkan hidup sebagai diri sendiri?'

aku jadi bertanyatanya, seandainya ia membaca..

Ah, ke'melow'an ini..