Kami berangkat ke Rumah Sakit Hasanah Graha Afiah (HGA) Depok dengan harapan bahwa pemeriksaan hanya dilakukan untuk memeriksa sebabnya kontraksi dini terjadi dan lalu boleh pulang. Tapi nyatanya, kami harus menghabiskan 2 malam kami di sini.
Dokter (lewat telepon) mengintruksikan pada perawatperawat untuk melakukan beberapa tindakan medis di kamar bersalin. Salah satunya adalah pemeriksaan mulut rahim dan pengecekan kondisi janin (detak jantung dan gerakan) dan frekuensi datangnya kontraksi dengan alat yang bernama CTG.
Kontraksi ditandai dengan mengerasnya perut, pergi dan datang dalam waktuwaktu tertentu. Dalam kasus aku, datangnya kontraksi sudah hampir teratur dalam waktu yang berdekatan sekitar 6 menit sekali.
Katanya (kata orangorang, kata buku), kontraksi juga ditandai dengan rasa yang amat sangat sakit dibagian punggung bawah menjalar ke bagian perut bawah (mungkin seperti mules) tapi aku tidak merasakan halhal tersebut. Kalau pun iya, rasa sakit yang aku rasakan ini masih bisa aku tahan (mungkin kontraksi yang sesungguhnya belum terjadi). Aku hanya mencemaskan kondisi bayiku setiap kali mengalami kontraksi.
Entah apakah karena kontraksikontraksi tersebut yang menyebabkan terjadinya pembukaan satu pada mulut rahim atau bukan, aku tidak begitu mengerti, yang aku tahu halhal tersebutlah ditambah dengan adanya sedikit pendarahan, yang kemudian 'memaksa' kami menjalani rawat inap untuk mempertahankan janin hingga mencapai usia yang tepat untuk dilahirkan (saat itu usia kandungan masih 35 minggu).
Malam itu perawat menanamkan jarum infus ditangan kiriku. Seumurumur aku ngga suka jarum suntik. Sekarang jarum itu malah harus tertanam selama beberapa jam (bahkan mungkin hari) dalam tanganku, membayangkannya saja aku sudah ngeri. Makanya beberapa menit sebelum jarum itu tertancap di tanganku dan sebelum perawatperawat itu datang lagi dengan segenap perlengkapan 'siksa' itu, aku merintihrintih dulu (:p).
Nyatanya mungkin memang tidak sengeri yang aku bayangkan apalagi sesakit yang aku perkirakan. Setelah jarum itu tertanam dan cairan infus mengalir ke tubuhku semua kecemasan akan segala bayangan kepedihan karena siksaan jarum itu hilang bahkan kontraksikontraksi itu pelanpelan tidak datang lagi. Tapi kalau ditawari untuk diinfus lagi.. ngga deh, makasih!Kami berharap tidak akan lama disini tapi ternyata dokter kebidanan kami baru bisa datang besoknya jadi kami terpaksa masih harus berbosanbosan berada di rumah sakit. Dan obat 'pematang paruparu untuk janin' yang disuntikkan ke dalam infus juga ternyata harus diberikan sebanyak 3 kali jadi bagaimanapun -mau tidak mau- kami memang harus berada selama 3 malam disini.
Suamiku kelihatannya gelisah dan tentunya tidak betah sama sekali. Tapi lepas dari itu semua, ia sabar menemani dan merawat aku, juga menjaga kami berdua (aku dan anak kami).
Selintas, aku yang rasanya tidak cukup sabar. Kalau tidak ingat 'adik bayi' dalam kandunganku ini masih sangat kecil untuk dilahirkan, aku ingin kemarin itu aku sudah melahirkan dan sekarang aku sedang memandanginya yang tertidur dalam 'boks pink' pinjamannya. :p
---------------------------

