Monday, June 30, 2008
Pindah pindah pindah..
Wuahh, pengen banget pindah rumah baru; rumah sendiri tapi baru bisa pindah rumah baru di dunia maya nih. Rumah ini semoga saja makin berisi; makin terinspirasi.
Monday, July 17, 2006
Aku sudah menjadi ibu
15/06/06
Sudah menjelang minggu keempat setelah aku melalui persalinan. Ketidaksabaran aku menghadapi rasa sakit sedikit mengecewakan. Tapi toh rasa sakit yang teramat sangat, terbayar sudah.
Pernah ada yang bilang, melahirkan itu sakit sekali tapi rasa sakit itu akan hilang ketika kita mendengar tangis bayi untuk pertama kalinya. Ucapan itu , nyatanya, benar adanya.
Pertama kali aku mendengar tangis bayi dalam ruang bersalin adalah tangisan bayi yang baru saja dilahirkan seorang ibu. Kami hanya dipisahkan oleh tirai tipis yang tidak kedap suara sehingga setiap rintih dan rasa sakit yang ibu itu rasakan aku seperti ikut merasakannya juga.
Rasa haru memenuhi rongga dada aku ketika bayi itu mulai menangis. Suara tangisnya yang pelan lalu melengking seperti sebuah mantera yang mengusir semua gelisah. Sebuah kuasa Allah telah dilahirkan. Keajaiban memenuhi setiap centi udara dalam ruangan itu.
Padahal itu bayinya orang lain. Aku membayangkan bagaimana jika itu adalah bayiku. Tibatiba aku tidak sabar untuk menempati tempat tidur disebelahku itu dan melahirkan anakku sendiri.
Hampir 24 jam aku menahan rasa sakit yang hampir membuatku putus asa. Aku merasa sangat lemas dan sesak. Aku merasa tidak akan kuat menahan sakit lebih lama lagi. Tapi suara dalam hatiku selalu berucap 'aku sebenarnya bisa melewati ini semua hanya perlu sedikit tambahan kesabaran'.
Setiap aku memandang suamiku, aku hampir selalu ingin menangis. Aku belum ingin pergi. Setiap kali rasa sakit itu datang (dan datangnya hampir setiap menit), aku bilang padanya, 'aku ngga kuat, mas', tapi Allah tahu benar aku belum ingin menyerah. Aku ingin melahirkan dan membesarkan anakanak kami dan menjalani waktu demi waktu bersama suamiku hingga kami tua kelak. Aku belum menyerah karena aku tahu suamiku juga tidak menyerah.
Persalinanku tidak memakan waktu banyak. Hanya 20 menit. Sebuah alat digunakan untuk menarik bayi keluar. Vakum ringan yang dilakukan adalah upaya terbaik untuk menyelamatkan bayi kami. Hanya dengan sedikit dorongan, nafasnafas pendek, dan ciuman dikening, aku merasakan sebuah 'kenyamanan' dikeluarkan dari dalam tubuhku.
Awalnya adalah kepala yang keluar, dokter menariknya perlahan lalu dengan lembut tapi cukup kuat ia menarik seluruh tubuhnya. Sebuah rasa yang sama sekali luar biasa -yang aku tidak bisa menggunakan katakata untuk menggambarkannya, yang aku ingin mengulangnya berulang kali- muncul selama bayi kami keluar dari perutku. Pundak, dada, perut, kakikaki..
Dokter meletakkan bayi yang berlumur lendir dan darah diatas perutku yang sudah mengempis. Geliat demi geliat bayi kami itu adalah sebuah kenikmatan tersendiri dan suara tangisnya adalah obat yang paling mujarab, mantera yang paling ampuh. Abrakadabra, semua rasa sakit hilang.
Aku sudah menjadi ibu dan ciuman dikening kemudian adalah loosing words, too many words..
Sudah menjelang minggu keempat setelah aku melalui persalinan. Ketidaksabaran aku menghadapi rasa sakit sedikit mengecewakan. Tapi toh rasa sakit yang teramat sangat, terbayar sudah.
Pernah ada yang bilang, melahirkan itu sakit sekali tapi rasa sakit itu akan hilang ketika kita mendengar tangis bayi untuk pertama kalinya. Ucapan itu , nyatanya, benar adanya.
Pertama kali aku mendengar tangis bayi dalam ruang bersalin adalah tangisan bayi yang baru saja dilahirkan seorang ibu. Kami hanya dipisahkan oleh tirai tipis yang tidak kedap suara sehingga setiap rintih dan rasa sakit yang ibu itu rasakan aku seperti ikut merasakannya juga.
Rasa haru memenuhi rongga dada aku ketika bayi itu mulai menangis. Suara tangisnya yang pelan lalu melengking seperti sebuah mantera yang mengusir semua gelisah. Sebuah kuasa Allah telah dilahirkan. Keajaiban memenuhi setiap centi udara dalam ruangan itu.
Padahal itu bayinya orang lain. Aku membayangkan bagaimana jika itu adalah bayiku. Tibatiba aku tidak sabar untuk menempati tempat tidur disebelahku itu dan melahirkan anakku sendiri.
Hampir 24 jam aku menahan rasa sakit yang hampir membuatku putus asa. Aku merasa sangat lemas dan sesak. Aku merasa tidak akan kuat menahan sakit lebih lama lagi. Tapi suara dalam hatiku selalu berucap 'aku sebenarnya bisa melewati ini semua hanya perlu sedikit tambahan kesabaran'.
Setiap aku memandang suamiku, aku hampir selalu ingin menangis. Aku belum ingin pergi. Setiap kali rasa sakit itu datang (dan datangnya hampir setiap menit), aku bilang padanya, 'aku ngga kuat, mas', tapi Allah tahu benar aku belum ingin menyerah. Aku ingin melahirkan dan membesarkan anakanak kami dan menjalani waktu demi waktu bersama suamiku hingga kami tua kelak. Aku belum menyerah karena aku tahu suamiku juga tidak menyerah.
Persalinanku tidak memakan waktu banyak. Hanya 20 menit. Sebuah alat digunakan untuk menarik bayi keluar. Vakum ringan yang dilakukan adalah upaya terbaik untuk menyelamatkan bayi kami. Hanya dengan sedikit dorongan, nafasnafas pendek, dan ciuman dikening, aku merasakan sebuah 'kenyamanan' dikeluarkan dari dalam tubuhku.
Awalnya adalah kepala yang keluar, dokter menariknya perlahan lalu dengan lembut tapi cukup kuat ia menarik seluruh tubuhnya. Sebuah rasa yang sama sekali luar biasa -yang aku tidak bisa menggunakan katakata untuk menggambarkannya, yang aku ingin mengulangnya berulang kali- muncul selama bayi kami keluar dari perutku. Pundak, dada, perut, kakikaki.. Dokter meletakkan bayi yang berlumur lendir dan darah diatas perutku yang sudah mengempis. Geliat demi geliat bayi kami itu adalah sebuah kenikmatan tersendiri dan suara tangisnya adalah obat yang paling mujarab, mantera yang paling ampuh. Abrakadabra, semua rasa sakit hilang.
Aku sudah menjadi ibu dan ciuman dikening kemudian adalah loosing words, too many words..
Subscribe to:
Posts (Atom)

